Dalam beberapa minggu terakhir, ternyata selain negara Indonesia yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan lantaran demo besar-besaran yang terjadi di hampir seluruh daerah di Indonesia dan menjadi sorotan dunia. Ternyata, negara Thailand dan juga Filipina mengikuti hal yang serupa pada kehidupan politiknya. Setelah mendapatkan perhatian akibat dari aksi demo dari ketiga negara ini di tengah-tengah Pandemi Covid-19. Kondisi dari ketiga negara tersebut hingga akhirnya menjadi pembahasan utama dan menjadi viral di media sosial dengan hastag : #SaveIndonesia #SaveThailand #SaveFilipina #PrayforIndonesiaThailandFilipina. 

Tidak ketinggalan #WhatsHappeninginThailand juga muncul dan menjadi sorotan publik bersamaan dengan Thailand dan Filipina yang muncul sejak  tanggal 177 bulan 10 tahun 2020 kemarin ini. Untuk Indonesia sendiri memiliki tagar khusus yakni #Tolakomnibuslaw #Mositidakpercaya #HilangkanUUCiptaKerja dan masih banyak lagi tag terkait atas demo yang sudah ada di Indonesia ini. Pasalnya, untuk mahasiswa ataupun orang-orang yang ikut melakukan aksi demo di 3 negara ini benar-benar tidak takut bahkan melupakan adanya virus Covid-19 yang masih saja bergulir menumbangkan banyak orang di setiap negara yang ada. 

Dengan melakukan sedikitnya aksi demo ini di saat masa-masa pandemi tentu saja, sudah menimbulkan berbagai macam kekhawatiran terhadap orang-orang yang ada disana. Tak hanya terjadi baku hantam terhadap aparat yang dikerahkan oleh setiap negara, namun tak sedikit yang khawatir akibat takut terserang virus Covid-19 yang sangat berbahaya ini. Akan tetapi mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi jalan satu-satunya bagi ketiga negara tersebut yakni : Indonesia, Thailand, dan Filipina mencari jalan keluar untuk mengeluarkan aspirasinya  kepada Pemerintah negaranya tersebut. Berikut ini akan kami beritahukan sedikit rangkuman yang terjadi dari ke-3 negara tersebut. 

Negara Indonesia 

Hari Ini Ribuan Mahasiswa Kembali Demo Tolak UU Cipta Kerja, Desak Jokowi Terbitkan Perppu Halaman all - Kompas.com

Dari pengesahan Omnibus Law terkait akan UU Cipta Kerja yakni senin tanggal 5 bulan 10 tahun 2020. Ekspresi kecewa memang selalu saja disampaikan lewat dari berbagai media yang ada. Lalu, aksi unjuk rasa ini berlanjut sampai hari Jum’at sejak 16 bulan 10 tahun 2020 kemarin di dekat area Patung Kuda yang ada di Jakarta. Lalu, unjuk rasa Omnibus Law UU Cipta Kerja dan bisa mendapatkan perhatian dari para Kpopers hingga beberapa media ternama yang ada di luar negeri. Hal ini sudah mengakibatkan menjadi trending topik di Twitter dan juga di Instagram. Selain adanya Demo, lalu Protes atas kehadiran dari Omnibus Law UU Cipta Kerja di Indonesia yang mana akan langsung dilewatkan oleh Mahkamah Konstitusi atau MK. 

Sebenarnya, protes ini sudah dilakukan di beberapa daerah yang berbeda seperti di Surabaya, Medan, Lampung, Kalimantan, dan beberapa daerah ternama lainnya yang ada di Indonesia juga mengadakan demo tentang isi UU Cipta Kerja. Dimana, isi dari yang sudah beredar di dunia maya benar-benar menohok bagi kalangan masyarakat menengah kelas kebawah. Pasalnya, itu akan membuat si Miskin akan menjadi jatuh miskin , terikat akan isi dari UU Cipta Kerja yang beredar. Hingga kini, aksi demo tersebut masih berjalan oleh para mahasiswa kebanggan negara Indonesia. 

 

PERBEDAAN UU  CIPTA KERJA OMNIBUS LAW VS UU KETENAGAKERJAAN 

  1. Masalah Istirahat : bisa dilihat langsung dari (A) UU Ketenagakerjaan No.13 Tahun 2003 yang mana ketentuan ini hadir di dalam pasal 79 , (B) UU Cipta Kerja dari Omnibus Law. 
  2. Masalah Upah yang  Berdasarkan langsung dari Satuan Hasil dan Waktu : bisa dilihat langsung dari (A) UU Ketenagakerjaan No.13 Tahun 2003 yang menjelaskan dari tidak adanya sebuah pungutan terkait akan Upah berdasarkan dari satuan hasil dan juga waktu. (B) UU Cipta Kerja dari Omnibus Law yang mana ini menjadi revisi pada pasal 88 dan juga pada pasal 89 dengan cara menyelipkan langsung poin di Pasal 88B. 
  3. Masalah akan Upah Minimum Provinsi , Kabupaten dan Kota : bisa dilihat langsung dari UU Ketenagakerjaan No.13 Tahun 2003 yang mana menunjukkan adanya penggunaan pada ketentuan penggunaan Pasal 89. Dan untuk UU Cipta Kerja Omnibus Law menjadi revisi pasal 88 dan juga pasal 89 dengan cara menyelipkan langsung pada poin pasal 88C. 

 

Negara Thailand 

Thailand Memanas, Unjuk Rasa Besar-besaran Menentang Dekrit Darurat

Dikutip langsung dari newdeti.com yang mana mendaaptkan kabar berita dari BBC. aksi demo di negara ini berujung pada buntut dari situasi politik dan juga minimnya kebebasan dari berpendapat di negara Thailand sana. Publik secara langsung bisa menuntut dari pengunduran diri perdana Menteri Prayuth Chan Ocha , lalu masalah Reformasi, dan juga penerapan dari Demokrasi. 

Aksi dari demo ini bisa ditanggapi oleh Pemerintah Thailand dengan cara mengeluarkan adanya dekrit yang mana menyatakan negara dalam sebuah kondisi yang berbahaya. Dekrit ini sendiri sudah menetapkan Jam Malam pada waktu 18.00 setempat disana dan juga sudah dilarang langsung berkumpul lebih dari 5 orang. Dalam hal ini, masa sendiri seolah-olah bisa mengabaikan Dekrit tersebut dan juga tetap saja mengadakan adanya Demo di hari kamis sejak tanggal 15 dan 16 bulan 10 tahun 2020. Lalu disini sekitar 10 ribu orang sudah berani melakukan perkumpulan di Bangkok sambil mengangkat adanya 3 jari dalam posisi sulit dan menjadi simbol unjuk rasa. 

Untuk Aksi Demo sendiri sudah langsung bertepatan dengan kembalinya Raja Maha Vajiralongkorn ke negara Thailand setelah berlalu beberapa Minggu kedepan yang berada di Jerman. Gaya hidup dari Sang Raja beserta dengan selirnya belakangan ini menjadi kontroversi di dunia. Seperti halnya anjing yang terpojok, disini kami akan langsung berjuang hingga akhir. Kami sendiri tidak akan langsung mundur, atau langsung lari, atau juga pergi kemanapun. Ini diujarkan oleh satu pemimpin demo Panupong Mike Rayong Jadnok. Dan disini dari sejumlah Tokoh kunci dalam demo di tahan oleh Pemerintah Thailand seperti : Pengacara HAM Anon Nampa, lalu pelajar aktivis Parit Ciwarak Penguin dan juga oleh Panusaya Sithijirawattanakul. 

 

Negara Filipina 

Aksi demo yang dilakoni oleh negara Filipina sendiri sejak Rabu tanggal 14 bulan 10 tahun 2020 terkait dengan kematian bayi yang bernama River yang baru saja berusia 3 bulan. River ini ternyata putri pertama dari Reina Mae Nasino yang menjadi aktivis HAM. disini Nasino bersama 2 rekan aktivis lain sudah langsung ditahan pada bulan November 2019 dan juga dituduh memiliki senjata api Ilegal. Ketiganya bisa juga membantah langsung atas tuduhan tersebut namun polisi yang ada di Filipina sendiri tetap saja memasukkan adanya mereka ke Penjara. 

What Happened to Baby River Nasino? Three-Month-Old in Philippines Dies After Being Separated From Mother

Dan lalu saat di Penjara, Nasino sudah tidak tahu bahwa sedang hamil dan bisa menganggap Periode Menstruasi yang memang tidak teratur akibat stres dalam penjara. Dan juga hasil dari pemeriksaan dalam menyatakan aktivis 23 tahun tersebut sedang hamil sampai dengan melahirkan di bulan Juli tahun 2020 tahun ini. 

Menurut dari pengacaranya yakni Josalee Deinla disini Nasino sudah sangat senang dalam mengetahui sedang hamil walau dengan kondisi tidak ideal. Pengacara serta aktivis HAM sempat saja protes supaya nantinya Nasino bisa mendapatkan kemudahan apalagi saat di tengah pandemi Covid-19. Protes  gagal sampai River ini lahir dengan kondisi dari Berat Badan rendah dan juga mengalami warna kulit yang menjadi kekuningan. Disini Nasino hanya saja diberikan waktu 2 bulan bersama bayinya sebelum benar-benar dipisah dengan River yang selalu dibesarkan oleh keluarga Aktivis. 

Dari saat itulah, kesehatan River akan terus saja turun menurun sampai mengalami Diare dan pada akhirnya meninggal dikarenakan penyakit Pneumonia. Dan juga Deinla sendiri sudah mengatakan kaget atas  sebuah perlakuan Pemerintah Filipina terhadap sebuah tahanan yang mana sedang  hamil. Disini Deinla sendiri juga Kaget dan protes selalu ditolak. Hakim dengan Pemerintah sebetulnya hanya perlu mempertimbangkan dari sudut Pandang Dari seorang Manusia. Namun sayangnya, kemurahan hati dan juga pengampunan tidak akan adanya hubungan dengan Ibu dan Anak. Ini sudah masuk dalam ujaran dari Deinla secara langsung. 

Posted in Politik Mancanegara