Negara China terkenal akan kebijakannya dalam struktur bernegara. Negara dengan julukan tirai bambu ini telah banyak membuat kebijakan yang berguna demi kemajuan negara tersebut. Tidak hanya itu, negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar ini harus dapat menyesuaikan kebijakan yang paling tepat dengan masyarakatnya. Terlebih lagi meninjau bahwa rakyatnya begitu banyak hingga menjadi negara dengan penduduk terbesar di dunia dengan urutan yang pertama. Tentunya hal ini merupakan suatu kesulitan tersendiri untuk dapat mengatur selaras dan hidup bernegara agar dapat menjadi teratur seperti saat ini.

Namun seperti yang banyak diberitakan di catatan publik. Tidak ada negara manapun yang berhasil menetapkan aturan bagi masyarakatnya secara sempurna. Pasti ada paling tidak sebagian kecil kebijakan yang dianggap tidak baik oleh rakyatnya maupun organisasi politik yang hidup di negara tersebut. Upaya penentangan ini sering terjadi bila negara tersebut mencetuskan suatu kebijakan baru yang dianggap provokatif atau hanya diciptakan untuk kepentingan para petinggi dan golongannya. Akibatnya rakyat yang merasa tidak mendapat keuntungan mulai mengajukan rasa ketidak sesuaian itu. Namun bagaimana dengan negara China dengan kriteria pemimpin yang cukup otoriter? Akankah hal tersebut berlaku sama?

Rencana yang Dibangun Xi Jinping

Xi Jinping berhasil memberi kejutan melalui upaya manifesto 2035-nya yang direncanakan untuk masa depan. Hal ini cukup berkaitan erat dengan cita-cita presiden ini yang berkeinginan untuk menjadi sosok ‘pemimpin seumur hidup’ di era masa kini. Pada sekitar beberapa waktu yang lalu, Partai Komunis China mengumumkan akan pertemuan kebijakan utama yang akan diadakan pada Oktober yang akan datang. Sebuah artikel menuliskan bahwa sidang paripurna yang kelima dari Komite Sentral yang ke-19 akan diadakan dan bertempat di Beijing yang diadakan para bulan Oktober.

Banyak pengamat akan politik yang ada di seluruh dunia menganggap bahwa hal ini menjadi rancangan dari sosok Xi Jinping dalam berusaha memerintah seumur hidup seperti era kepemimpinan Mao Zedong. Sosok pemimpin diktator yang begitu terkenal dari negara komunis ini memerintah hingga kematiannya yang berusia 82 tahun. Dengan kata lain, ia benar-benar memerintah seumur hidup tanpa digantikan maupun diprotes oleh pihak manapun. Maka dari itu Xi Jinping berusaha menjalankan rencana investasinya yang akan diadakan dalam 5 tahun ke depan.

Negara China telah mengalami pembaharuan sistem dari model kerajaan yang berlaku seumur hidup menjadi dibatasi sesuai tata peraturan yang berlaku. Sama seperti negara Indonesia, sistem ini diberlakukan di China untuk mencegah kemungkinan adanya masa kekuasaan yang terlalu panjang dari suatu pihak. Proses modernisasi yang berlangsung di negara bambu juga sudah mengalami beberapa kali pembaharuan agar menjadi lebih sempurna. Meskipun sosok pemimpin yang sedang menjabat saat itu dianggap baik, namun banyak pihak tetap menganggap masa kekuasaan seumur hidup tidak menjadi suatu hal yang baik hingga dalam kondisi terparahnya mampu menimbulkan suatu permasalahan besar.

Terlebih lagi dunia pada masa kini sedang mengalami keterpurukan akibat masalah kesehatan akibat dari virus corona yang menyerang hampir seluruh bagian di bumi ini. Sehingga akibat dari kondisi yang tidak pasti itu, penetapan akan keputusan untuk membeli masa jabatan yang panjang dianggap agak gila dan sulit untuk diwujudkan sebagai suatu bentuk realita.

Banyak pihak menganggap keputusan untuk mengesahkan rancangan yang dicetuskan Xi Jinping dapat berakibat fatal jika tidak dipikirkan dengan baik-baik. Ketidaksukaan ini banyak disampaikan dalam upaya sinis dari tutur bahasa yang disampaikan dalam meresponi ide tersebut. Seperti layaknya cara kerja dari banyak pihak-pihak di bidang politik dalam menyampaikan rasa ketidaksukaan mereka akan suatu hal.

Dimulai Dari Keputusan Terpilih yang Kedua Kalinya

Pencetusan ide akan masa pemerintahan seumur hidup ini mungkin didukung oleh faktor kuat yang menyampaikan bahwa presiden Xi Jinping ini kembali terpilih menjadi presiden secara mutlak yang kedua kalinya untuk masa periode 5 tahun kedepan. Sebanyak 2.970 suara dari jumlah delegasi yang hadir ke acara kongres nasional yang digelar mungkin menjadi alasan yang besar bagi Xi Jinping untuk dapat menyarankan ide memerintah seumur hidup ini.

Pernyataan ini diumumkan ke publik dimulai dari mereka yang berada di tempat itu di detik akan memulai masa pemerintahan yang baru didampingi dengan wakil presiden baru yang terpilih untuk masa jabatan lima tahun kedepan. Kejadian ini terjadi mirip dengan masa pemerintahan terbaru yang ada di Indonesia, dimana presiden Joko Widodo terpilih lagi sebagai presiden dan didampingi oleh wakil presiden yang baru Ma’ruf Amin. Kita doakan saja semoga Pak Jokowi tidak terpikir akan ide aneh seperti berusaha memerintah seumur hidup seperti ini ya.

Banyak pihak menganggap Xi Jinping berusaha menyamakan dirinya dengan sosok Mao Zedong, bapak pendiri China yang telah tercatat akan kekuasaannya terus berlaku hingga ia meninggal. Akibatnya rencana ini dianggap sebagai upaya yang tidak realis oleh banyak anggota, terutama mereka yang bekerja di bidang politik. Namun selayaknya terbungkam dan tidak memiliki kuasa, banyak dari antara mereka yang tidak berani mengutarakan pendapatnya secara terang-terangan. Hal ini mungkin diakibatkan karena prinsip ideologi komunis yang diterapkan sebagai aturan yang kuat dalam ideologi komunis. Sehingga akibatnya keputusan ini masih diperdebatkan bagaikan lebah yang berdengung namun tidak bertindak untuk menyengat sebagai upaya dalam menentangnya.

Upaya yang Dilakukan Untuk Bisa Menjabat Seumur Hidup

Dalam hal ini Xi Jinping melakukan amandemen UUD yang berlaku dalam konstitusi, dimana salah satu pokok yang dibahas dalam hasil amandemen itu memungkinkan untuk dapat menjabat seumur hidup. Berbagai media digunakan untuk menyampaikan informasi Xi Jinping sebagai sosok yang telah berjasa bagi negara China. Sehingga sangatlah pantas untuk dipertahankan dalam waktu masa pemerintahan yang panjang.

Meskipun begitu masih ada beberapa media di China yang menyebut upaya perencangan masa kepemerintahan yang dicetuskan oleh Xi Jinping ini hanya suatu upaya propaganda semata. Dimana aturan ini tidak berarti memberikan jabatan selama seumur hidup bagi Xi Jinping. Hingga kini proses amandemen Undang-Undang ini masih sedikit rancu dan belum ditemukan titik pastinya.

Kemungkinan Terburuk yang Dapat Terjadi

Di sisi lain, keberanian Xi bisa menjadi bumerang. Pasalnya, itu menghasilkan perselisihan yang bahkan lebih keras dengan saingan. Jika para tetua partai atau saingan melihat musim panas ini sebagai kesempatan terakhir untuk mengajukan kasus mereka, tidak ada kekurangan topik yang dapat digunakan untuk mengejarnya. Melihat ke belakang, Xi juga melakukan serangan pada kongres nasional terakhir partai tersebut pada kongres nasional terakhir 2017. Didukung dengan sesaat sebelum acara, Sun Zhengcai salah satu pejabat tinggi Chongqing yang sedang menjabat pada saat itu beserta kandidat untuk menggantikan pemimpin tertinggi di masa depan, menjadi korban kampanye anti-korupsi khas Xi.

Pada kongres partai 2017, lima tahun setelah dia memimpin partai, Xi juga berhasil melakukan sesuatu yang dianggap mustahil: mengabadikan ideologinya yang eponim dalam konstitusi partai. Beberapa bulan kemudian, dia membatalkan batas presiden untuk masa jabatan dua tahun.

Di Tiongkok saat ini, banyak program pemerintah memiliki tenggat penyelesaian pada 2035. Area Baru Xiong’an, kota baru yang besar di Provinsi Hebei, termasuk di antaranya. Proyek ini berjalan dengan dukungan penuh Xi.

Para peserta akan menilai proposal untuk rencana lima tahun mendatang yang mencakup 2021 hingga 2025 “dan target masa depan untuk 2035,” katanya. “Jangan bersusah payah sampai hari kematian seseorang”, menjadi sebuah slogan yang disukai dan sering digunakan untuk mengungkapkan tekad ketika akan pergi berperang. Bagi pengamat China di seluruh dunia, bagian kedua dari kalimat itu adalah pesan berkode yang tidak bisa diabaikan. Banyak pendapat menyebut bahwa “Presiden Xi Jinping memiliki niat yang tinggi untuk tetap berkuasa dalam jangka waktu yang panjang,” kata salah seorang pakar politik. “Perencanaan yang dibuat harus menjadi manifesto untuk 15 tahun ke depan.”

Meskipun Tiongkok telah mengalami modernisasi selama bertahun-tahun, Tiongkok masih mempertahankan beberapa sisa dari era ekonomi terencana sosialisnya, termasuk perumusan rencana lima tahunan. Oleh karena itu, keputusan untuk membahas rencana baru merupakan suatu hal yang tidak mengherankan untuk dapat terjadi disana. Bagaimana pendapat anda mengenai hal ini?

Posted in Politik Mancanegara

More about:


Pada masa di musim semi tahun 2006, seorang sejarawan bernama Princeton Sean Wilentz menerbitkan artikel di Rolling Stone yang mengajukan pertanyaan provokatif: “Apakah Bush presiden terburuk yang pernah ada?”, Artikel ini diterbitkan  di tengah masa jabatan presiden kedua dari Amerika Serikat yaitu George W. Bush. Pria ini bahkan turut menyampaikan skenario kasus terbaik bagi artikel yang membahas presiden Bush pada masa itu sebagai “aib sejarah kolosal”. Ia juga menambahkan, bahwa banyak tokoh penting di masa kini yang bertanya-tanya apakah Bush, menjadi sosok presiden terburuk yang dicatat ke dalam rangkaian sejarah Amerika. Penilaian Wilentz ini dinilai agak terlalu dini untuk kasus masa pemerintahan di Amerika yang belum terlalu lama. Dimana hal ini juga ditulis oleh penulis Robert W. Merry di media The National Interest. Berbagi faktor menimbulkan kedudukan historis dari presiden di Amerika untuk bisa dinilai pada saat posisinya masih memiliki kedudukan yang penting.

Sosok Presiden Terbaik Di Sejarah Amerika Serikat

Negara Amerika mengenal akan sosok Barack Obama. Catatan sejarah berhasil merekam sosok Barack Obama sebagai pemimpin yang dianggap salah satu yang terhebat. Selain itu masih ada beberapa sosok lain yang dianggap sebagai presiden terbaik yang pernah tercatat di sejarah Amerika. Mari kita simak beberapa diantaranya:

1. Abraham Lincoln

Sosok presiden yang satu ini menjabat di waktu Amerika sedang kacau akibat konflik perbatasan wilayah negara. Tidak berhenti sampai situ saja banyak permasalahan lain yang juga terjadi diantara kaum penduduk lokal dan pendatang dari luar. Salah satunya dalam masalah kekerasan yang cukup sering terjadi. Perlahan namun pasti, Abraham Lincoln berhasil mengubah kondisi itu menjadi lebih baik.

Ia mengutamakan kebebasan emansipasi bagi para rakyatnya dengan cara melarang prinsip perbudakan. Meski usaha ini belum berhasil selama masa jabatannya, namun upaya ini mendapatkan simpati dari banyak orang hingga sampai ke kaum orang-orang sakti yang memiliki kemampuan khusus. Namun sayangnya Lincoln dibunuh sebelum misi itu selesai. Kematiannya juga membawa duka yang disampaikan oleh banyak warga negaranya.

2. John F. Kennedy

John F. Kennedy (JFK) adalah salah satu presiden terbaik yang pernah dimiliki dan tercatat oleh Amerika Serikat. Pria satu ini menjabat selama dua tahun sebelum akhirnya mati dibunuh. Banyak perubahan dalam Amerika yang telah diperbuatnya. Banyak tokoh-tokoh penting yang memiliki kepandaian juga dibawanya kedalam pemerintahan.

Atas dasar rasa cintanya akan kedamaian, Ia juga mendirikan organisasi perdamaian dan membuat aturan baru dalam hak asasi manusia. Ia bahkan berusaha untuk memperbaiki hubungan Amerika dengan Uni Soviet (yang saat ini bernama Rusia) agar menjadi lebih baik. Kennedy selalu mengupayakan Amerika untuk dapat bersikap lebih manusiawi. Akibat dari hati malaikat yang dimilikinya, upaya pembunuhan John F. Kennedy dianggap sebagai konspirasi dalam membuat Amerika menjadi lebih buruk. Mirip dengan teori konspirasi yang digembar-gemborkan di Indonesia pada saat ini ya? 

3. James Monroe

Pria ini memberlakukan kebijakan yang melarang masuknya koloni-koloni baru di Amerika, yang banyak berasal dari kawasan Eropa. Ia juga sering mengunjungi secara langsung masyarakatnya seperti tindakan blusukan yang dilakukan oleh presiden Indonesia pada saat ini. Dengan berkeliling di berbagai wilayah Amerika, Monroe berhasil mengetahui keinginan dari segenap warganya. Ia tercatat juga selalu berupaya membawa kedamaian di seluruh wilayah Amerika.

Kepandaian yang dimiliki membuat semua konflik yang dialami pada masa itu selalu berhasil dihindari. Selain itu aneka masalah yang terjadi juga selalu diselesaikan dengan baik. Monroe merupakan salah satu orang yang tidak menyukai terjadinya peperangan, sehingga ia sangat mengimpikan perdamaian di wilayah Amerika Serikat yang berlaku secara abadi. Banyak masalah dan perpecahan tidak terjadi selama masa kepemimpinannya. Bahkan Amerika juga mulai mengurangi jumlah budak yang diambil dari negara-negara Afrika

 

Kegagalan Pemerintahan di Amerika Serikat

Beberapa contoh berita kegagalan dari masa pemerintahan di Amerika Serikat juga pernah terjadi hingga dicatat dalam beberapa riwayat sejarah. Seperti contohnya selama pemerintahan beberapa tokoh dibawah ini. 

1. James Buchanan, Presiden Sumber Petaka AS

James Buchanan dapat disebut sebagai salah satu presiden terburuk yang pernah berkuasa dalam memimpin Amerika. Salah satu bukti kegagalannya terjadi dalam bentuk perang saudara yang yang cukup mengerikan di masa itu. Peristiwa bermandikan darah ini . Pria ini juga pernah memproklamirkan pernyataan kontroversial akan gerakan yang mendukung perbudakan di Amerika.

Perpecahan antar orang-orang Amerika juga terjadi di masa ini. Dan dipusatkan pada pecahnya perang saudara yang telah membunuh lebih dari setengah juta orang banyaknya pada masa itu. Hingga akhirnya masa jabatannya berakhir di saat Abraham Lincoln berhasil mengakhiri Perang Saudara tersebut dan menggantikan posisinya.

2. Franklin Pierce, Presiden AS Paling Tidak Kompeten

Presiden Amerika yang satu ini dianggap sebagai sosok presiden yang paling tidak kompeten. Hal ini dikarenakan dibanding menguasai kemampuan yang mumpuni akan menjadi pemimpin, Franklin Pierce lebih sering mengutamakan kemampuan dan keterampilan akan menampilkan daya pikat yang menarik serta penampilan wajahnya yang rupawan. Hal ini juga mungkin menjadi alasan dari Franklin Pierce dipilih menjadi Presiden oleh salah satu partai pada saat itu. Pemilihan presiden di saat itu yang dimenangkan oleh Pierce hanya memiliki selisih kemenangan yang sangat tipis dari kandidat yang lain.

Selama menjadi presiden, sosok Presiden rupawan ini juga dikenal memiliki karakter yang plin-plan dan begitu mudah untuk dipengaruhi. Sama seperti James Buchanan, ia juga pernah membuat suatu keputusan kontroversial mengenai perbudakan. Dengan cara melepas tanggung jawab yang dimiliki, ia melepas urusan itu ke masing-masing wilayah bagian Amerika sehingga terjadi bentrokan yang tidak dapat dielakkan lagi. Masa buruk pemerintahannya juga menimbulkan efek negatif dimana bibit-bibit dari perang saudara yang terjadi di wilayah Amerika Serikat bertumbuh secara subur.

3. George W Bush dan Keputusan Edannya

Bush juga dicatatkan sebagai salah satu presiden Amerika Serikat yang tercatat akan keburukannya semasa memerintah. Berbagai keputusan yang diterapkan oleh Bush berhasil membuat kondisi ekonomi di Amerika menjadi ambruk hingga memberi pandangan yang buruk bagi negara lainnya. Bush juga memulai penyerangan massal yang dilakukan oleh Amerika ke wilayah Afganistan dan Irak. Dimana ia menganggap bahwa kedua negara tersebut memiliki senjata yang dapat memusnahkan manusia secara masal. Namun sebenarnya tindakan ini hanya bertujuan untuk menggulingkan Saddam Husein. Akibatnya kekacauan ini masih berlangsung di kawasan Timur Tengah hingga saat ini. Berikut beberapa contoh pemimpin di negara Amerika Serikat yang menempati posisi terbaik dan terburuk dalam catatan sejarah di negeri tersebut. Bagaimana menurutmu akan sosok-sosok itu? Semoga di Indonesia tidak akan pernah ada pemimpin yang buruk seperti yang pernah terjadi di Amerika Serikat ya.

Posted in Politik Mancanegara

Seperti yang sudah kita ketahui, Donald Trump selaku dari presiden Amerika Serikat yang selalu membuat isu-isu dalam dunia Politik, atau apapun itu yang bisa mengguncang sebagian Negara. Yang dalam artian, sering sekali melakukan adanya sebuah kontroversi yang nyata. Tidak sedikit pula dalam hal ini adanya sebuah kebijakan yang di lakukan langsung oleh Donald Trump yang memang bisa untuk menggoyang sebuah kondisi dimana Geopolitik sampai pada ekonomi dunia.

Dan salah satu darikebijakan Donald Trump inilah yang memamng menjadi sebuah kontroversi di dalam pemberlakuannya tariff dagang yang ada. Negara China, lalu UE atau Uni Eropa, Meksiko beserta Kanada yang berada di Amerika Utara ini pun menjadi salah satu contoh dari adanya beberapa Negara yang memang sudah menjadi incaran dari kebijakan tarif oleh Negara Amerika Serikat ini.

Dari adanya kebijakan yang di terapkan oleh pemerintah Donald Trump ini pun, akhirnya berimbas juga ke Indonesia dari adanya sebuah Normalisasi kebijakan tersebut. Dan untuk saat ini pun, Amerika Serikat sedang melakukan pengkajian ulang terhadap adanya Negara-negara dari penerima Generalized System Preferences atau GSP. Dan disini Indonesia juga yang termasuk ke dalam salah satunya. Nah untuk GSP ini sendiri juga sudah menjadi sebuah kebijakan yang di terapkan langsung oleh Amerika Serikat di dalam mewujudkan adanya pemotongan dari Bea masuk impor. Untuk kebijakan inilah yang memang sudah menjadi salah satu pendorong dari tingginya ekspor Indonesia ke Negara Amerika Serikat.

Nah, untuk kebijakan dari Trump inilah yang langsung menuai sebuah Kontroversi yang tentu saja membuat seluruh entitas yang ada di dunia ini menjadi semakin panas lagi.

Kebijakan Trump Yang Sempat Menuai Kontroversi

Dari sini ada sebuah dana yakni Dana Moneter Internasional atau dikenalnya dengan IMF yang memang sudah memberikan adanya peringatan ke Amerika Serikat, dengan melalui sebuah kebijakan tariff yang langsung memicu adanya perang dagang, yang memang langsung beresiko menurunkan sebuah pertumbuhan global dengan angka sebesar 0,5 % atau jika kita rubah menjadi angka, jumlah ini mencakup nilai sebesar US$ 430 Miliar yang akan langsung hilang dari adanya PDB dunia ini pada tahun 2020.

Adanya ketua dewan komisioner lembaga penjamin simpanan atau LPS yang bernama Halim Alamsyah juga sempat mengatakan bahwasannya Strategi dari kebijakan tariff ini menjadi salah satu kebijakan Donald Trump yang sudah masuk kedalam sebuah rumusan dari Make America First. Dan kebijakan ini tidak lepas dari adanya dukungan komponen utama Strategi Amerika Serikat itu sendiri yang bisa mendatangkan adanya sebuah keuntungan bagi negaranya tersebut.

1.1  adanya penurunan terhadap tingkat

untuk komponen utama yang menjadi sebuah kebijakan Trump dalam memangkas adanya pajak ini juga bisa di sebut langsung dengan sebutan Trump’s Tax Reform yang memang akan menarik lebih jauh lagi biaya dari banyaknya investor untuk melakukan adanya Investasi di Amerika Serikat. hal ini dikarenakan langsung dari adanya sebuah pemangkasan dalam pajak untuk bisa menghasilkan adanya perusahaan dari 35% yang sudah menjadi 21% sejak Januari awal di tahun 2018 silam.

1.2 terdapat larangan masuk bagi Imigran

Untuk hal ini, di sebutkan oleh Halim dalam sebuah langkah Trump ini juga sudah melarang masuk Imigran ke dalam Amerika Serikat yang memang menjadi sebuah kamuflase agar nantinya tenaga kerja di Amerika Serikat ini masih terserap dengan baik oleh adanya Industri. Dirinya memang sudah menyatakan hal ini sejak juli 2 tahun lalu Amerika Serikat sudah menutup kesempatan bagi siapapun itu untuk Kerja Low Skill bagi sang Imigran.

1.3 melakukan pembatasan ekspor terkait teknologi canggih dengan kebijakan tariff yang berlaku

Untuk hal satu ini juga sudah menjadi sebuah langkah yang memang di lakukan bagi Amerika Serikat untuk bisa menjadi unggul dan juga tidak adanya Negara lain yang bisa menduplikasikan bagi teknologi mereka sendiri. Untuk kebijakan tariff ini, memang sudah masuk menjadi pemicu perang dagang di Amerika Serikat. Yang berakibatkan adanya aksi untuk saling balas satu sama lain di Amerika Serikat. Halim ini sendiri memang sudah mengatakan adanya sebuah penerapan Tariff yang terang-terangan sengaja untuk di lakukan oleh Donald Trump yang dipergunakan dalam membatasi adanya Impor yang dapat memacu sebuah produksi di dalam negeri.

Walau nantinya rangkaian kebijakan ini memang bisa memicu adanya deficit fisikal, tetap saja Trump beroptimis sekali dengan adanya berbaagi macam langkah yang benar-benar dirinya buat. Disini juga Halim mengatakan bahwa dirinya sendiri bersedia untuk Defisit Fiskal , yang tetapi mereka semua tidaklahtakut karena orang-orang tetap melakukan adanya Investasi ke Amerika Serikat. Disini memiliki sebuah Unlimited Demand terhadap surat-surat yang memang masih berharga. Sudah jelas, inilah yang menjadi pegangan kekuatan. Yang menjadikan nomor satu di dunia.

Benarkah Rumor Mengenai Dana Asing Yang Kabur Dari Indonesia ?

Masih dari salah satu situs yang membicarakan adanya Halim dengan mengatakan sebuah perubahan strategi Amerika Serikat untuk mendorong langsung dari adanya sebuahnya Investor untuk bisa menanamkan langsung adanya sebuah modal di Negara Amerika Serikat menjadi lebih positif lagi. Selanjutnya ada juga, Negara lain yang terutama sekali Negara berkembang yang memang sudah menjadi kurang menarik kembali. Sehingga, disini terciptanya sebuah arus modal yang akan kembali lagi pastinya ke Negara Amerika Serikat. Siasat yang cukup baik ya guys.

Halim juga sudah mengatakan lagi, istilah kata sambung kata selanjutnya yang dimana ini sudah mencapai sekitaran 157 triliun yang dimana sudah mencakup adanya data-data yang memang juga sudah di lihat langsung dari keluarnya di bulan Januari awal tadi sampai bulan Juli di tahun sebelumnya. Untuk dana ini akan kembali lagi ke Negara Amerika Serikat yang diakibatkan adanya sebuah nilai dari Dollar Amerika Serikat menguat yang berakibat banyaknya sudah yang bisa memegang Dollar.

Lanjut lagi dari Halim telah menjelaskan juga adanya kondisi ini bisa membuat terus menerus berlangsung selama Amerika Serikat ini terus menerus untuk menerapkan adanya sebuah kebijakan yang memang sangat kontroversial. Walau nantinya IMF ini sudah memberikan adanya sebuah peringatan kepada Amerika Serikat mengenai sebuah pertumbuhan Ekonomi dari mereka yang memanglah sudah tidak bisa lagi untuk tumbuh yang berada di atas 2,9%.

Dirinya juga menyebutkan adanya sebuah pertumbuhan ekonomi yang Dimana ada masa puncaknya, dan Amerika Serikat sudah bisa melalui hal itu. Dan jika nantinya sudah bisa mencapai adanya 2,9% ini bisa kemungkinan sudah Inflasi ini naik.

Nah, jika nantinya sebuah Inflasi Amerika Serikat ini bisa meningkat maka nantinya bank Sentral yang merekamiliki ini yakni federal reserve akan kembali lagi meningkatkan sebuah suku bunganya. Jadi, kebijakan ini sebenarnya menurut kalian, usul yang sudah bijak belum dari Dinald Trump serta pemerintahnya Amerika Serikat ini ?

Posted in Politik Mancanegara